ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

MALAM-MALAM KELAM DI PEKALONGAN (BANSER PEKALONGAN HARUS TAHU)

Sabtu, 03 Oktober 2020


18 Oktober 1964

PW GP Ansor Jawa Tengah Memberikan instruksi resmi kepada PC GP Ansor se-Jawa Tengah untuk secara aktif memberikan bantuan dan perlindungan kepada warga yang terganggu oleh buruh tani Indonesia (BTI-underbow PKI). Sahabat Mahmud Maskur (Ketua PC Ansor Pekalongan) segera mengumpulkan anggota Ansor-Banser Kotapraja Pekalongan, membahas langkah-langkah darurat yang harus diambil.

Setelah mendapat restu dari H. Mustofa Bakri (Ketua Tanfidz PCNU) beliau menyampaikan situasi terkini diantaranya adalah berbagai aksi sepihak PKI (tokohnya Maktub Hadi, Goyohan dan BTI) yang mulai berani menyerobot padi dan tanah garapan milik tuan tanah para tokoh NU di antaranya H. Jonet, H. Walon dan H. Asikhin. Dan PKI menghasut petani daerah Podosugih dan sekitar pekalongan barat, agar tidak membayar pajak dan zakat serta menganggap para kiai yang menarik zakat sebagai "Tujuh setan desa".

Langkah yang diambil saat itu diantaranya:

  • Kalau PKI menggerakkan Pemuda Rakyat (PR), maka NU harus mengorganisasi Ansor menjadi Banser yang lebih militan.
  • Kalau PKI menggerakkan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra), maka NU mengaktifkan Lembaga Seni Budaya Muslim (Lesbumi) di THR (Taman hiburan rakyat-jln Merdeka).
  • Kalau PKI memperluas pengaruhnya melalui Barisan Tani Indonesia (BTI), NU menghimpun petani dalam Persatuan Tani Nahdlatul Ulama (Pertanu) untuk membendungnya.
  • Kalau PKI mengerakkan buruh dengan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), NU punya Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) untuk membendungnya.
  • Kalau PKI menyanyikan lagu genjer-genjer yang penuh hasutan dan sindiran, NU mengobarkan sholawat badar.

.

Ada cerita lucu bagaimana para sahabat Banser juga melakukan Riyadloh Bathin yang dilatih oleh para kyai disamping Riyadloh Badaniyah yang berupa pencak silat, dan karate serta latihan senjata.  Almarhum Bapak saya bersama beberapa sahabat segera sowan ke dalem Mbah KH. Ahmad Dimyati Kedawung, Pemalang yang terkenal sebagai waliyullah. Setelah selesai mengamalkan ijazah wirid dan puasa dari beliau, para Sahabat Banser disuruh sowan kembali. Ternyata beliau minta tolong dicarikan kayu bakar di kebun sekitar dan minta para sahabat mengambil parang dan diasah yang tajam.  Tak menunggu lama para Banser segera mengasah parang setajam mungkin, untuk memotong kayu-kayu tersebut. Setelah itu parang diteliti, tiba-tiba beliau membacokkan pada Banser yang disitu namun tidak terluka sama sekali dan semuanya lulus dalam ujian tersebut. Beliau melakukan tes itu tanpa peringatan untuk menambah kemantapan para Banser berjihad membela agama nantinya. Hanya satu sahabat Sukri yang tidak berani dites dengan parang, akhirnya Sukri disuruh oleh KH. Ahmad Dimyati untuk memanjat pohon Randu yang sudah berusia puluhan tahun  dan banyak sarang semut rangrang. Namun sampai diatas ternyata semua semut itu tidak menggigitnya malah justus menghindari Sahabat Sukri. Begitu turun langsung disabet dengan parang dan Alhamdulillah tidak lecet sedikitpun.

Menurut keterangan Sohid Aldin (Alm) Anggota Banser Cabang Pekalongan saat itu berjumlah 5000 orang. Hal ini tidak aneh mengingat Pekalongan adalah Basis NU yang diperhitungkan sejak dulu. Terbukti pada tahun 1930 Pekalongan menjadi tuan Rumah Muktamar Ke V NU yang dipimpin langsung oleh Hadlratus Syeikh KH Hasyim Asyari dan H Ahmad Muhsin.

Sedikit mundur kebelakang, tahun 1960 PKI membangun sebuah basis kuat di Kota Pekalongan, khususnya di Kelurahan Sampangan yang terdapat banyak industri batik, jalan Sultan Agung, jalan Hayam Wuruk, jalan Pintu Dalam dan jalan Haji Win. Munculnya UU Landreform jadi sarana PKI untuk menghasut para buruh tani dengan iming-imingi akan diberi tanah yang subur jika ikut PKI. seperti yang terjadi di Kelurahan Podosugih. Saat itu inflasi besar-besaran, harga-harga menjadi naik hingga mencapao 500%, di Pekalongan harga beras naik dari Rp 1.000 menjadi Rp 2.000. Dimana setiap keluarga harus rela antri berjam-jam hanyamendapat jatah beras 1 cangkir itupun terkadang bercampur dengan kutu atau ulat.

Ansor membentuk Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) tahun1962, diantaranya karena PKI telah merembes ke dalam tubuh angkatan bersenjata. Ketegangan terjadi antara tahun 1963 hingga tahun 1964 dengan adanya aksi sepihak PKI/BTI (Barisan Tani Indonesia)terhadap para tuan tanah NU dan kiai Di Pekalongan. Ditambah massifnya kegiatan kesenian yang dilakukan Lekra di beberapa kelurahan dengan tarian Genjer-Genjer & tarian bagi hasil.  Serta kampanye PKI terhadap apa yang disebut dengan Tujuh Setan Desa.

Sebelum G30S terjadi, aksi-aksi radikal PKI makin meningkat dan agresif. demonstrasi, rapat umum, pidato umum, kampanye pers dan radio, serta kampanye poster dan papan-papan propaganda raksasa dipasang dipinggir-pinggir jalan pantura. PKI menghasut warga Pekalongan untuk memusuhi lawan politiknya. PKI juga berusaha merongrong kepercayaan seseorang dengan propaganda anti agama. Serta kampanye anti-BPS (Badan Pendukung Sukarno) dan kampanye anti-Manikebu (Manifesto Kebudayaan) akibatnya Golongan Nasionalis dan Agama mulai bangkit dan benbentrokan tak terhindarkan. Pemuda Rakyat dihadang Banser, Lekra dihadapi Lesbumi, BTI dibendung Pertanu, dan SOBSI dibendung oleh Sarbumusi serta lagu genjer-genjer digulung sholawat badar.

Setelah G30S meletus, Suasana kota pekalongan sangat kacau. Mereka menerima surat yang disebar dari udara yang menyatakan adanya operasi RPKAD (sekarang Kopasus) untuk mencari anggota-anggota PKI, BTI, dan Gerwani. Apalagi Pekalongan juga menjadi tempat pelarian anggota PKI dari daerah-daerah lain.

3 Oktober 1965

Secara resmi Ansor  menginstruksi anggotanya untuk bersama-sama membantu ABRI memulihkan keamanan dan menjaga keutuhan bangsa serta menyelamatkan revolusi di bawah pimpinan Soekarno. Praktis Pemerintah, Kodim, dan Kepolisian mengumpulkan  pemuda Ansor, dan pemuda-pemuda desa untuk dilatih menggunakan senjata dengan tujuan khusus seringkali diarahkan oleh para komandan militer untuk membunuh atau menangkap simpatisan PKI. Simpatisan PKI dijadikan sebagai petunjuk anggota PKI karena mereka mengetahui siapa saja yang menjadi anggota PKI. Setelah anggota PKI dibersihkan simpatisan- simpatisan ini yang kemudian menjadi korban berikutnya.

11 Oktober 1965

Unit Komando Parako di bawah pimpinan Komandan RPKAD (sekarang Kopasus) Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dengan dikawal peleton Letda Sintong Panjaitan tiba di Pekalongan sebelum melanjutkan ke Semarang menyusul satu batalyon RPKAD dibawah komando Mayor CI santosa dari Jakarta malamnya.

Praktis mulai tanggal 17 Oktober 1965, kondisi politik nyaris berubah total dengan massifnya Angkatan Darat melalui RPKAD mengejar dan mendorong pembantaian segera berlangsung dengan cepat meluas ke daerah-daerah. Setelah selesai, maka pasukan RPKAD menyerahkan kembali tugas keamanan ke pemerintah dan pimpinanmiliter setempat, dan tanggal 25 Desember 1965 kembali bergerak menuju Jakarta.

12 Oktober 1965

Ansor Pekalongan mengirimkan beberapa bus  anggotanya ikut sertadalam apel akbar se Jawa Tengah  di lapangan Universitas Diponegara Peleburan

15 Oktober 1965

NU, Ansor-Banser, dan Partai Katolik mengadakan rapat akbar dan pengajian di alun-alun Pekalongan dan lapangan Sorogenen yang diketuai H. Ridwan (NU) yang dihadiri kurang lebih 1.000.000 orang antara lain Walikota, Kodim 0710, Kepala polisi Kota Pekalongan.

(Arsip, Surat laporan tanggal 29 0ktober 1965 dari GP Ansor kota praja Pekalongan kepada PP GP Ansor tentang peristiwa pengganyangan G 30 S/PKI.)

Dari situ Ansor Banser bersama pemuda yang tergabung dalam “Kesatuan Aksi Pengganyang Gerakan Kontra-Revolusi 30 September” (KAP-Gestapu) mulai melakukan pembersihan Anggota PKI dan pembakaran Kantor PKI di Jalan Progo kemudian membakar dan menghancurkan alat-alat drum band. Sebagian menuju kantor PKI yang berada di Jalan Dr. Wahidin untuk menghancurkan dan membakarnya. Juga mengobrak-abrik gedung-gedung PKI, Baperki, dan toko-toko Cina, bioskop Merdeka, Gedung CungHwa Cung Hwi (sekarang SMA 1 Pekalongan) dan rumah orang-orang komunis.

Operasi penangkapan PKI biasanya berlangsung dini hari, di mana orang sedang terlelap lalu diambil dari rumahnyauntuk dikumpulkan di tempat penampungan sementara. Sebagian penangkapan menggunakan truk berbendera PKI untuk mengecoh PKI, karena mereka Akan menganggap truk itu milik PKI yang akan melakukan gerakan, sehingga tanpa curiga menaiki truk tersebut.

Setelah orang-orang PKI ikut naik, ternyata mereka dibawa ke Depo dan ditahan sementara di sana. Biasanya orang-orang PKI yang ditangkap ini yang ikut-ikutan, sedangkan gembongnya sudah melarikan diri sebelumnya. istri-istri mereka banyak yang mengaku janda, dan para Gerwani yang akan ditangkap biasanya berpura-pura gila dan telanjang, sehingga yang akan menangkapnya tidak tega.

Orang PKI yang  masuk daftar penangkapan dipangil untuk berkumpul di kodim 0710 Pekalongan. Bagi massa PKI yang mendapat perlindungan Aparat desa disuruh lapor ke kecamatan untuk menyatakan bahwa mereka tidak terlibat dalam gerakan PKI dan mereka disuruh apel pagi jam 08.00-10.00. Karena tempat tahanan tidak cukup untuk menampung semua tahanan, sehingga banyak rumah-rumah dan gedung-gedung yang kosong milikorang Tionghoa (Cina) digunakan sebagai tempat penahanan.

Selama dalam masa tahanan di Kota Pekalongan, mereka tidak boleh dijenguk dan berbicara dengan keluarga. Hingga sampai tanggal 30 Desember 1965 tawanan dari G-30-S tercatat sebanyak 3.009 laki-laki, 29 wanita, serta tercatat 206 tahanan meninggal dunia disebabkan sakit mencret. Tahun 1966 terjadi lagi kekacauan keamanan dampak dari kontra revolusi G30S/PKI di Pekalongan

 

22 Maret 1966

Pukul 07.30 WIB terjadi pengambil alihan gedung sekolah asing milik warga negara RRT didesa Grogolan yang dilakukan sekolah SMA dan SPG dengan menggunakan organisasi Kodjarsena (Pramuka) pimpinan guru-guru SMA. Setiadji dan Setiadi tanpa menimbulkan korban dan pengrusakan.

 

6 April 1966

Pukul 14.00 terjadi pengrusakan dan pencabutan papan-papan nama partai dari PNI, GSNI,dan Persatuan Wanita Marheinis di Kota Pekalongan oleh orang-orang KAPPI dan KAMI yang tergabung dalam rombongan MAN Arif Rochman Hakim sekembalinya dari Solo dan bermalam di Pekalongan. Bentrokkan timbul dari Pemuda Marheinis dan golongan Pemuda Pelajar yang tergabung dengan rombongan KAPPI/KAMI;

 

7 April 1966

08.00 terjadi pengambilan alih gedung kediaman Tiong Hwa yangsudah diamanatkan Go Jo Han Jalan Sultan Agung No. 109 yang dilakukan olehKAPPI Pekalongan pimpinan Cherodji, Syeh, dan Imam Soeripto.

...

Untuk arwah Para sahabat Banser yang telah mendahului kita, bilkhusus Bapak saya Zaenuri bin Nurzen dan Komandan Sohid Aldin ..

Alfatihah...

 

Penulis : Sahabat Amin Nur (Anggota Instruktur Satkorcab Banser Kab. Pekalongan)

Share This :

0 Comments