ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

TITIK TEMU ANTARA HIJRAHNYA KANJENG NABI , NU DAN NKRI (OLEH KH. HUDALLOH RIDLWAN NA'IM)

Jumat, 21 Agustus 2020

 

Buaran - Dalam acara pelantikan Pengurus NU Kelurahan Sapugarut periode 2020 - 2025 dan Peringatan HUT RI serta Tahun Baru Islam, KH. Hudalloh Ridlwan Na'im atau yang akrab dipanggil Gus Huda selaku Sekjend PWNU Jawa Tengah berkesempatan menyampaikan mauidhoh hasanah yang pointnya sudah kami rangkum. Ada titik temu antara hijrahnya kanjeng Nabi , NU dan NKRI . (20/8)

Dalam ceramahnya beliau menyampaikain bahwa adanya peringatan ini menandakan bahwa adanya wujud dan kejadian haqiqi yang dialami Kanjeng Nabi. Serta merupakan peristiwa yang di peringati dan di rayakan setiap tahun adalah wujud sebagai rasa cinta dengan apa yang di peringati itu dalam hal ini Hijriyatun Nabi SAW , dan semoga kehadiran kita semua menjadi bukti kecintaan klyang haqiqi kepada Kanjeng Nabi SAW. Karena kelak di akhirat akan ada manusia ahli maksiat tapi akan di masukkan surga karena kecintaannya kepada Kanjeng Nabi, atau mencintai orang-orang yang mencintai kanjeng Nabi SAW. Peringatan semacam ini menjadi wasilah atau cara memupuk dan menumbuhkan rasa Mahabbah ilar Rosulillah SAW.

Ciri orang mencintai Nabi adalah dengan mencintai para ulama. Sebab para ulama inilah yang menjaga, membawa dan mengembangkan ilmu dan ajaran Nabi SAW . Gus Huda menambahkan orang yang suka mengolok ulama berarti tandanya bohong kalau mengakui kecintaan terhadap kanjeng Nabi SAW.

Termasuk masuknya Islam ke Indonesia di bawa oleh Ulama yang menggunakan cara kanjeng Nabi SAW. Bohong kalo ada orang mengaku kembali ke Al Quran dan Hadits tanpa melalui para Ulama. Para pedagang Gujarat punya andil membawa ajaran Islam ke Indonesia itu betul tapi bukan satu-satunya. Karena ada andil para ulama, Syaikh Ibrahim Asmaraqandi, Syaikh Jumadil Qubra sampai kepada para walisanga dan para penerusnya. Jika membuka sejarah, satusatunya yang selalu memberi perlawanan kepada para penjajah adalah para ulama dan para santri . Sebab andaikata tidak ada semangat Islam, maka rasa Nasionalisme bangsa Indonesia akan pudar. Islam di sini yang di maksud adalah sebagaimana Islamnya para Walisanga . Maka, para penjajah dulu mencoba melemahkan ajaran KeIslaman dari dua Arah , luar dan dalam . Dari arah luar dengan cara pemurtadan . Membuat pemahaman keislaman menjadi kabur dengan memasukkan ajaran-ajaran baru dan menanamkan keraguan-keraguan terhadap para pemeluknya . Salah satu contohnya adalah amaliyah yang sudah di ajarkan para ulama terdahulu di bid'ahkan dan disesatsesatkan, padahal sudah di lakukan sejak ribuan tahun yang lalu . Masalah furu'iyyah seperti membaca Qunut ketika subuh sudah selesai di bahas sejak Zaman Madzahibul Arba'ah.

Gus Huda juga menjelaskan bahwa Ki Ageng Gribik dan Pangeran Diponegoro adalah pejuang yang berlatar belakang santri penerus ajaran walisanga dan Rasululloh . Untuk mempertahankan Ajaran Rasululloh dan mempertahankan Tanah Air Indonesia, para ulama berperan besar dalam perjuangannya, bersama menjaga tradisi ajaran Rasululloh sebagai wujud cinta . Para pendahulu, para ulama selama bertahun-tahun tidak pernah pudar semangatnya dalam menjaga NKRI. Kekuatan yang sudah bertahun-tahun tertanam itu, di himpun kembali dan dipertahankan oleh Hadrotusysyaikh KH. Hasyim As'ary pendiri Nahdlatul Ulama' .

Dalam sejarah, Negara Inggris pada saat itu tidak memiliki latar belakang kalah perang dengan bermacam amunisi dan tetara terlatihnya, namun bingung ketika melawan pejuang Tanah Air. Pada saat itu, Jendral Soedirman ketika di Mintai masukan oleh Ir. Sukarno menjawab bahwa yang bisa menselesaikan peperangan melawan sekutu yang di pimpin Inggris ini adalah Hadrotusysyaikh KH. Hasyim As'ary dengan backing pasukannya seperti Hizbulloh, Sabilillah yang kesemuanya adalah barisan para santri penerus perjuangan Rosululloh. Dan Mbah Hasyim mengeluarkan Resolusi Jihad tanpa gentar. Membuktikan bahwa Mbah Hasyim juga menguasai strategi peperangan .

Maka kenapa para santri dulu pinter silat dan jadug , karena pada saat itu santri termasuk benteng terdepan dalam perlawanan terhadap penjajah . Juga tidak berlebihan jika disebut bahwa Tentara NU , para Banser khususnya adalah sisa-sisa tentara Rasululloh karena memang misi pertamanya menjaga ajaran Rasululloh. Semua yang dilakukan adalah bukti Mahabbah yang agung kepada Rosululloh. Baginda Nabi SAW adalah pribadi yang sangat mencintai Umatnya. Maka, hal-hal yang kita lakukan untuk menyenangkan umat kanjeng nabi adalah salah satu cara menggapai ridho dan kecintaan kanjeng Nabi SAW. Beliau tidak hanya membela orangorang yang benar, orang yang teraniyaya dan sering di bully atas kesalahannyapun tetap di bela, dengan wujud melarang untuk membicarakan (menghibah) kesalahan orang lain itu.

Perjuangan kita mempertahankan dan mencintai NKRI adalah wujud dari keimanan. Seabagaimana Mbah Wahab dalam menggubah syair Ya Lal Wathon menggunakan diksi Hubbul Wathon Minal Iman, bukan Hifdzul Wathon (Menjaga Tanah Air) juga bukan Ri'ayatul Wathon (Nguri-uri), karena begitu pentingnya rasa cinta. Maka dengan kita berjuang di NU bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk Rosululloh SAW.

Perjuangan kita mempertahankan dan mencintai NKRI adalah wujud dari keimanan.

Di NU ada 18 Lembaga , yang bertujuan memberikan pelayanan terhadap umat kanjeng Nabi SAW . Dan Gus Huda beratanya, kenapa masjid dan mushola kita jaga serta kita bela ? Agar umatnya kanjeng Nabi dapat melaknsanakan syariatnya dengan baik dan benar. Dan kenapa madrasah diniyyah dan pesantren kita pertahankan ? Untuk menjaga ajaran-ajaran Rasululloh .


Hadrotusysyaikh KH. Hasyim As’ari dawuh  “Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya”. Kenapa diksi yang di gunakan adalah mengurus NU , bukan menjadi pengurus NU , bukan siapa yang puluhan tahun mesantren ? Karena mengurus NU sama saja mengurus dan mempertahankan tradisi ajaran Rasululloh SAW, yang sangat mulia. Maka , para santri yang boyongan namun hanya fokus memgajar tanpa mengenalkan NU kepada Masyarakat sama saja membunuh pesantren . Karena tradisi pesantren selalu di pertahankan oleh NU . Jika masyarakat tidak mengenal NU, bagaimana mungkin mau belajar dan mondok di pesantren NU?

Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya”. (Hadrotusysyaikh KH. Hasyim As’ari)

Gus Huda juga menambahkan, InsyaAllah jika seluruh akar rumput, NU di ranting-ranting sudah hidup dan berjalan maka pelayanan di masyarakat akan semakin baik dan maju . Dan menurut beliau menjadi pengurus NU adalah kenikmatan dan anugrah yang telah di berikan oleh Allah untuk bisa berkhidmah dan mendekat kepada Rasululloh SAW . Maka, manfaatkan waktu menjadi pengurus sebaik mungkin .

Beliau juga mengutip dawuh KH. Bisry Syansuri “ Sopo wonge gelem ngurusi Nu, Maka akan bahagia dunia dan akhirat “. Karena, Jika NU kuat maka Indonesia Kuat , dan sebaliknya . Maka, kebangkitan NU tidak bisa lepas dari kebangkitan Nasionalisme dan negara . Dan mengamalkan Qonun Asasi dengan menjalankan progam kerja dan kegiatan adalah wujud dari mengamalkan Wasiat dan keputusan para ulama.

Kontributor : M. Wamiq Hammadallah

Share This :

0 Comments